Investasi emas memang menguntungkan tapi berhati-hati dalam berinvestasi - WARGA KARAWANG

12 Feb 2021

Investasi emas memang menguntungkan tapi berhati-hati dalam berinvestasi


Investasi emas fisik via digital sedang menjadi tren dikalangan masyarakat saat ini. tapi masyarakat diminta berhati-hati, sebab kondisi seperti ini biasanya sering dimanfaatkan oleh oknum lembaga investasi yang tidak berizin alias bodong.


seperti yang kita ketahui, Emas menjadi instrumen investasi yang sangat menarik saat ini, karena harganya cenderung selalu meningkat. Seiring dengan perkembangan itu, pesatnya perkembangan teknologi turut mendorong hadirnya investasi emas secara digital.

Praktisi hukum bisnis Andy R. Wijaya mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam berinvestasi. "Pertama, masyarakat selaku investor kalau mau berinvestasi harus di lembaga investasi yang mendapat izin dari OJK," katanya dalam keterangan kepada media, Sabtu (14/11).

Menurut Andy R, sebagus apa pun lembaga investasi atau setinggi apa pun keuntungannya kalau tidak ada izin dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka  ada potensi penipuan.

Kedua, jangan tergiur dengan iming-iming profit yang tinggi. Masyarakat mestinya harus tahu bahwa profit tinggi selalu juga diiringi dengan resiko yang tinggi.

"Maka jika ada janji keuntungan tinggi apalagi flat tiap bulan, pasti bohong. Investasi emas digital di pasar bursa berjangka keuntungannya tidak bisa flat," ujar Andy.

Sedangkan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyebutkan, kunci dalam berinvestasi adalah 2L, artunya 2L yaitu logis dan legal. Logis dapat dinilai dari tawaran investasinya yang masuk akal.

"Kalau tidak masuk akal, bahkan dua kali dari deposito maka berhati-hati dan legal harus dicek dulu izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” katanya.

Hoesen mengatakan, modus penipuan investasi yang saat ini banyak ditemukan seperti penghimpunan dana terlebih yang berbasis online. Lalu modus kegiatan penasihat investasi itu yang ternyata tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan laman resmi OJK, ciri utama penipuan berkedok investasi adalah tidak dimilikinya dokumen perizinan yang sah dari regulator (pengawas) terkait, contohnya seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Bappebti-Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, dan lain-lainnya.

Hal ini dilakukan semata-mata untuk meminimalisir terjadinya kerugian atas penipuan yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda