Belajar cara menganalisa dan memilih saham yang sehat - WARGA KARAWANG

12 Mar 2021

Belajar cara menganalisa dan memilih saham yang sehat

Investasi reksadana saham belajar investasi Warren Buffett

warga-karawang.comPernah gak kamu ngerasa bingung pas milih saham ? saham yang terdaftar di bursa itu kan ada 600an nih terus kita harus beli saham apa dong ?

kebanyakan investor pemula seringnya tuh nyari rekomendasi atau bocoran saham yang besok bakal naik, tapi kalau kata pak Lo Kheng Hong nih jangan beli saham karena ikut-ikutan. ayo baca laporan keuangan. dengan baca laporan keuangan kita tuh jadi tahu gitu mana perusahaan bagus yang layak diinvestasiin dalam jangka panjang.

Emang bener banget, idealnya supaya bisa menganalisis bisnis perusahaan kita tuh perlu baca laporan keuangannya. tapi tentu aja bakalan cukup ngerepotin gitu, buat baca satu per satu laporan keuangan setiap kuartal.

Nah, sebetulnya ada nih, satu cara sederhana buat ngelakuin proses seleksi terhadap saham yang kamu incar, jadi sebelum kamu ngubek-ngubek laporan keuangan kamu bisa lakuin langkah sederhana ini buat tau gitu apa perusahaan tersebut tuh layak diteliti lebih lanjut atau enggak.

Apa sih yang mendefinisikan perusahaan itu punya bisnis yang sehat? bisnis yang sehat itu ya sederhananya perusahaan yang terus bertumbuh, perusahaan yang untungnya besar, perusahaan yang bisa ngelola biaya dan kewajiban finansialnya. dengan efisien dan perusahaan yang bisa ngelola utang produktifnya supaya bisa ngehasilin bisnis yang lebih baik lagi.

Sebaliknya perusahaan yang bisnisnya gak sehat itu ya perusahaan yang ngak stabil kadang untung, kadang rugi. terus biaya dan bebannya juga besar pengelolaan sumber dayanya berantakan dan utang perusahaannya tuh terlampau besar kalau dibandingin sama kemampuan perusahaan tersebut buat bayar utang.

Nah kamu perlu tahu gitu di pasar modal, ada banyak perusahaan yang keliatannya dari luar baik-baik aja produknya sering kita lihat di toko gedung kantornya mewah tapi ternyata kondisi bisnis perusahaannya tuh kurang sehat, utang perusahaannya numpuk. 

sebaliknya ada juga tuh perusahaan yang gak terlalu dikenal jarang ada orang yang tahu tapi ternyata profitnya besar dan manajemennya tuh juga bagus, biasanya Pak Lo Kheng Hong jeli banget menemukan perusahaan kaya gini.

pertanyaannya sekarang gimana sih caranya supaya kita bisa tau ciri-ciri perusahaan yang sehat? 

Nah, aku mau ajarin kamu nih cara sederhana buat ngelihat rekam jejak sebuah perusahaan tanpa harus terlalu jauh baca ratusan lembar laporan keuangan sekarang, coba deh kamu liat di laporan keuangan.

kalau kamu liat laporan keuangan, kamu kan bakal ngeliat banyak angka-angka nah angka itu tuh divisualisiin dalam bentuk grafik, yang bakalan kita pelajari bareng-bareng gimana kita bisa ngeliat kesehatan perusahaan pake grafik.

oke pertama tentu kita tuh harus nentuin dulu gitu saham apa yang mau kita analisis aku ambil contoh misalnya saham indofood CBP dengan kode ICBP ini adalah kode saham yang produknya jadi kesayangan banyak orang di Indonesia setelah milih emitennya, kamu bisa pilih bagian finansial di sini kamu bisa milih gitu, mau pake data tahunan atau data kuartal. di artikel kali ini aku bakalan bahas data tahunan ICBP selama 5 tahun terakhir.

kita bakal disodorin 3 grafik, ada Income statement atau laporan laba-rugi ada juga balance sheet atau laporan neraca dan cashflow statement atau laporan arus kas.

Wah kok banyak istilah keuangan gitu sih ? tenang... semuanya bakal aku jelasin satu-satu 

pertama, kita bahas tentang income statement atau laporan laba rugi

Di income statement, kita bisa lihat gitu rekam jejak penjualan dari perusahaan indofood selama beberapa tahun ke belakang di situ kamu bisa lihat data dari tahun 2015 sampai tahun 2019.

kamu juga bisa lihat ada revenue yg ngegambarin berapa banyak sih uang yang masuk dari hasil penjualan produknya, makin besar tentu makin baik.

Artinya penjualannya tuh makin naik terus ada juga net income yang ngegambarin seberapa besar sih keuntungan perusahaan setelah semua pemasukan itu tuh dikurangi sama seluruh biaya kayak biaya produksi, biaya operasional, pajak, depresiasi, dll.

Selain itu ada juga profit margin nih atau persentase keuntungan bersih kalo

Dibandingin pemasukannya semakin tinggi profit margin, tentu bakalan makin bagus artinya laba atau keuntungan perusahaan tuh tebel banget kalau dibandingin sama pemasukan penjualannya semakin tinggi, ya... artinya perusahaan itu tuh bisa ngelola biayanya jadi lebih efisien. Di sana kamu bisa liat nih contoh di tahun 2015-2019 artinya sebelum terjadi pandemi pemasukan ICBP tuh terus bertumbuh naik labanya juga naik terus dan profit marginnya juga terus naik dari sini kita bisa tau gitu kalau dari sisi penjualan, ya ICBP tuh sehat banget sekarang kita coba lihat contoh lainnya. 

misalnya saham AISA yang produknya tuh berupa snack yang sering kita lihat di mini market sejak tahun 2014. ada hal yang menarik nih dari sisi revenue AISA ini kurang stabil sejak tahun 2015 pemasukannya turun terus dan incomenya juga sempat sampai negatif artinya perusahaannya sempat merugi yang menarik adalah profit marginnya sempat melambung tinggi di tahun 2019 padahal tahun 2018 dan 2017 tuh sempat rugi wah, ada apaan tuh? 

nah kalau kita ngulik laporan keuangannya pasti ketemu jawabannya ternyata nih melambungnya profit margin itu berasal dari sisa piutang lain-lain yang diakui sebagai pendapata setelah salah satu anak usaha AISA itu dilikuidasi.

Namanya PT. Dunia Pangan dan juga berasal dari selisih nilai wajar atas restrukturisasi Utang Obligasi dan Sukuk yang dimiliki AISA.


Yang ketiga yaitu balance sheet atau laporan neraca.

kita lihat lagi grafik ICBP. di sana ada 3 istilah nih yang pertama ada total aset yg ngegambarin seluruh nilai kekayaan perusahaan mulai dari banyaknya modal yang dimiliki sampai banyaknya kewajiban yang harus dipenuhin gitu semakin tinggi assetnya, ya artinya perusahaannya semakin besar ada juga liabilitas yg ngegambarin total kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan mencakup utang atau biaya yang harus dibayar di masa depan ke pihak lain.

Selain itu ada juga Debt Equity Ratio atau DER yang ngegambarin rasio utang terhadap nilai ekuitas atau modal bersih perusahaan semakin rendah DER, artinya beban utang perusahaan itu relatif ga terlalu besar kalau dibandingkan sama modal bersih yang dimiliki sama perusahaan sementara semakin besar DER, apalagi sampai menembus 100% artinya rasio utang perusahaannya itu semakin besar bahkan bisa melebihi modal bersih yang dimiliki perusahaan tersebut.

nah... sekarang kita lihat lagi nih, saham ICBP total asetnya itu terus bertumbuh naik di sisi lain liabilitas atau kewajibannya juga naik, kamu bisa liat juga nih kalau kenaikan asetnya itu lebih signifikan dibandingkan kenaikan liabilitasnya artinya walaupun kewajiban perusahaannya itu bertambah tapi nilai kekayaan perusahaannya juga bertumbuh selain itu kita juga bisa lihat, rasio utangnya bisa kita lihat pada garis kuning yang semakin menurun artinya jumlah utangnya itu semakin menurun nih, kalau dibandingin sama nilai bersih perusahaannya dari sini kita juga bisa lihat gitu kalau indofood ICBP itu perusahaan yang terus bertumbuh asetnya dan pengelolaan utangnya juga sehat.

Sekarang kita coba balik lagi lihat saham AISA di sana kamu bisa lihat, kalau liabilitas atau kewajibannya tuh bertumbuh terus dari 2014 sampai 2019. di sisi lain ada penurunan yang signifikan pada total aset yang dimiliki sejak tahun 2018 dan 2019. uniknya lagin nih, rasio hutangnya tuh juga menurun di tahun 2018 dan 2019 kok bisa gitu ya ? lagi-lagi nih kalau ada kejanggalankaya gini, kita tuh bisa lihat laporan keuangannya buat kasus AISA jawabannya itu karena ada penyesuaian atas laporan keuangan perusahaan akibat perusahaan itu tuh mutusin buat menghentikan operasional divisi berasnya di tahun 2017 yang akhirnya nurunin aset perusahaan dari sebelumnya itu di Rp. 8 Triliun jadi Rp. 1.9 Triliun serta bikin modal bersih perusahaan tersebut tuh jadi negatif.


Casual Statement atau laporan Arus Kas

Cashflow atau Arus Kas itu ya, singkatnya ngegambarin aliran uang masuk dan keluar.

Ada 3 jenis Cashflow nih yang pertama itu adalah operating Cashflow yg nunjukin gimana sih perusahaan bisa menghasilkan dana kas dari kegiatan operasional buat ngedapatin profit.

Kalau operating Cashflow-nya itu positif artinya perusahaan tersebut tuh bisa ngehasilin dana kas dari kegiatan bisnis operasional perusahaan kalau negatif ya, artinya pengeluaran operasionalnya tuh lebih besar daripada pemasukannya.

Selain itu ada juga Investing Cashflow jadi gini kalau Investing Cashflow itu positif, artinya nih bisa jadi perusahaan tuh lagi ngelakuin penjualan pada aset-asetnya sementara kalau Investing Cashflownya itu negatif artinya ada uang nih, yang dibelanjain buat jadi aset perusahaan misalnya beli tanah, beli mesin, perawatan aset produksi, dll.

Pada umunya nih Investing Cashflow yang positif itu justru dianggap sebagai hal yang kurang bagus kalau diihat dari sisi bisnis, karena artinya perusahaan itu tuh lagi ngelakuin efisiensi atau lagi butuh uang gitu, sampai dia harus menjual aset-aset yang dimiliki.
penjualan aset tersebut tentu itu bisa berpengaruh sama tingkat produksi yang jadi menurun sementara investing Cashflow yang negatif justru dianggap sebagai hal yang wajar soalnya kan emang perusahaan itu pasti harus ngeluarin uang buat membeli atau ngerawat asetnya.

yang terakhir adalah Financing Cashflow

kalau ini gampang banget nih, dia tuh ngegambarin arus kas yang berhubungan sama pinjaman atau utang dan suntikan modal dari pemegang saham. kalau Financing Cashflownya positif artinya perusahaan tuh dapat pinjaman baru atau utang atau bisa juga dapetin setoran modal dari pemegang saham.

sementara kalau Financing Cashflownya negatif artinya perusahaan tuh lagi membayar utangnya atau membayar dividen dalam hal ini, Financing Cashflow yang positif atau negatif itu harus ditinjau dulu latar belakangnya jadi ngak bisa dilihat secara hitam-putih. kalau misalnya sebuah perusahaan dapat suntikan modal baru atau ngajuin utang buat ekspansi usaha apalagi kalau kita lihat operasionalnya bagus dan rasio utangnya sehat pengajuan pinjaman tuh bukanlah hal yang buruk. tapi kalau misalnya pinjaman utang atau setoran modal itu ngak disertai sama kondisi manajemen yang bagus dan rasio utang yang kurang bagus ya, itu tuh bisa jadi pertanda yang kurang bagus.

Sekarang kita coba lihat lagi kondisi Cashflow ICBP kita bisa lihat nih, kalau operasional Cashflownya tuh terus bertumbuh artinya Indofood ICBP itu selalu punya cadangan kas yang positif dari laba yang mereka dapetin sejak 2014-2019 bisa dibilang bisnis Indofood ICBP tuh sangat mandiri. udah ngak perlu suntikan dana lagi dari investor dan selama periode ini juga mereka tuh cenderung ngelakuin pembayaran utang dibanding ngajuin pinjaman utang.

sementara AISA bisa kita lihat nih kalau Operasional Cashflownya tuh menipis di tahun 2019 kalau dari investing Cashflow, kita juga bisa lihat kalau bisnisnya tuh relatif belum bisa stabil dan mandiri terus dari sisi Financing. Cashflow kita juga bisa tau gitu kalau AISA pernah dapetin pinjaman baru di tahun 2014 sampai 2017 dan baru mulai bayar hutangnya di tahun 2018. oya aku juga mau ngasih tau nih semua perusahaan itu punya Casenya sendiri-sendiri setiap data keuangan, punya interpretasi yang unik bisa jadi sebuah perusahaan yang berutang buat ekspansi bisnis sekilas tuh bakalan kelihatan jelek kalau dalam data tapi kita bisa lihat juga gimana mereka mengeksekusi utang tersebut supaya bisa jadi profit di masa depan.

Inilah hal yang seru dalam analisis sebuah perusahaan mungkin artikel ini tuh ngak bisa ngejelasin seluruh aspek dalam memahami laporan keuangan dengan kasus yang unik untuk setiap perusahaan tapi seenggaknya hal itu bisa jadi langkah awal yang tepat buat mengidentifikasi mana sih, perusahaan yang menarik buat ditinjau lebih lanjut ? dan mana perusahaan yang keliatannya tuh gak worth it, buat kamu telusuri dan bisa dibilang bisa kamu abaikan.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda